Minggu, 04 Desember 2011

BAHAN CETAK (ILMU BAHAN KEDOKTERAN GIGI)
TINJAUAN PUSTAKA

         2.1  BAHAN CETAK
Untuk menghasilkan cetakan yang akurat, bahan yang digunakan untuk membuat tiruan dari jaringan intraoral dan ekstraoral harus memenuhi kriteria berikut. Pertama, bahan cetak tersebut harus cukup air untuk beradaptasi dengan jaringan mulut serta cukup kental untuk tetap berada dalam sendok cetak yang menghantar bahan cetak ke mulut. Kedua selama di mulut, bahan tersebut harus berubah (mengeras) menjadi benda padat menyerupai karet dalam waktu tertentu; idealnya waktu pengerasan total kurang dari tujuh menit. Akhirnya, cetakan yang mengeras harus tidak berubah atau robek ketika dikeluarkan dari mulut, dan dimensi bahan harus tetap stabil sehingga bahan cor dapat dituang.
Bahan cetak dapat dikelompokkan berdasarkan pada cara bahan tersebut mengeras yaitu reversible dan ireversible.
a.       Reversible
Bahan ini melunak dengan pemanasan dan memadat dengan pendinginan, tanpa terjadi perubahan kimia. Hidrokoloid reversibel dan kompoun cetak( campuran resin dan malam) termasuk dalam katagori ini.
b.      Ireversibel
Terjadi reaksi kimia, sehingga bahan tidak dapat diubah kembali ke keadaan semula pada klinik dokter gigi.misalnya hidrokoloid alginat, pasta cetak oksida seng eugenol (OSE) dan plaster of paris mengeras dengan reaksi kimia, sedang bahan cetak elastomerik mengeras dengan polimerisasi.
Cara lain mengelompokkan bahan cetak gigi adalah menurut penggunaanya yaitu bahan cetak elastik dan bahan cetak tidak elastik.
a.       Bahan cetak elastik
Dapat secara akurat memproduksi dengan baik strutur keras maupun lunak dari rongga mulut, termasuk underkut dan celah proksimal. Meskipun bahan ini dapat dipakainuntuk mencetak pasien tanpa gigi, kebanyakan digunakan untuk membuat model cor untuk gigi tiruan sebagian cekat atau lepasan serta untuk unit restorasi tunggal.
b.      Bahan cetak tidak elastik
Beberapa bahan cetak menjadi keras dan tidak dapat dikeluarkan melalui underkut tanpa mematahkan atau mengubah bentuk cetakan. Bahan cetak tidak elastis ini digunakan untuk semua cetakan sebelum ditemukan agar . Meskipun bahan cetak ersebut sudah tidak digunakan lagi untuk pasien bergigi, bahan tidak elastik ini memiliki keunggulan dalam pembuatan cetakan pasien tak bergigi
Macam macam Bahan Cetak:
a.         Bahan Cetak Hidrokoloid
1.    AGAR (hidrokoloid reversibel)
·       Komposisi
Agar merupakan salah satu jenis koloid  hidrofilik organic yang diekstrat dari rumput laut jenis tertentu.  Terdapat dalam konsentrasi 8% - 15%, bergantung pada sifat bahan yang dimaksud. Kandungan utamanya adalah air (>80%). Untuk memperkuat gel, biasanya ditambah sedikit boraks. Namun sayangnya boraks merupakan salah satu jenis retarder terbaik untu pengerasan gypsum. Kandungan air yang berlebih dalam agar juga dapat memperlambat pengerasan gypsum. Oleh karena itu, untuk menyeimbangkan pengaruh air dan boraks pada gel, ditambahkan sedikit kalium sulfat. Kalium sulfat merupakan zat pemercepat pengerasan gypsum. Beberapa bahan pengisi juga diberikan, seperti tanah diatoma, tanah liat, silica, malam, karet dan serbuk kakuk serupa. Zat lain seperti timol dan gliserin juga ditambahkan untuk menjadi bakterisit dan bahan pembuat plastic.
·       Proses Gelasi
Proses gelasi merupakan suatu proses pengerasan hidrokoloid reversible. Perubahan fisik sol-gel dipengaruhi oleh perubahan temperature. Namun untuk perubahan dari gel menjadi sol diperlukan titik didih yang lebih tinggi (temperature liquefaction = 70-100 derajat). Biasanya sol berubah menjadi gel pada suhu 37-50 derajat. Temperature gelasi dipengaruhi oleh beberapa factor termasuk berat molekul, kemurnian agar, dan rasio terhadap komposisinya. Ketidaksamaan temperature gelasi dan temperatu pendinginan inilah yang menyebabkan agar dapat digunakan sebagai bahan cetak dalam kedokteran gigi.
·         Manipulasi bahan agar
Secara umum ada 3 tahapan, yaitu:
a.      Persiapan bahan
Tahapan pertama adalah mengubah gel hidrokoloid menjadi sol. Cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan air panas. Sebaiknya bahan dibiarkan dalam tempertur ini selama 10 menit. Setelah dilelehkan, bahan dapat disimpan dalam keadaan sol sampai waktunya diinjeksikan ke dalam preparasi kevitas atau diisikan ke sendok cetak. Temperatur yang terlalu rendah dapat menghasilkan bahan cetak dengan kekentalan yang lebih tinggi dan tidak mampu mereproduksi detail halus dengan tepat.
b.      Kondisioning atau pendinginan
Suhu penyimpanan 65 derajat terlalu tinggi untuk rongga mulut. Oleh karena itu, bahan perlu didinginkan terlebih dahulu (ditempered). Untuk tahap preparasi, sebuah tube dikeluarkan dari kompartemen penyimpanan dan dimasukkan ke sendok cetak, sepotong kasa diletakkan diatas bahan yang terletak di sendok cetak, kemudian diletakkan lagi di kompertemen pendingin 45 derajat selama 3-10menit.  Waktu yang berbeda-beda tergantung pada jenis hidrokoloid dan keenceran yang diinginkan oleh dokter gigi.  Sebagai tambahan, selain menurunkan temperature, pendinginan juga dapat meningkatkan kekentalan bahan hidrokoloid sehingga bahan tidak mengalir keluar sendok  cetak.
c.       Membuat cetakan
Sebelum proses pendinginan bahan cetak terselesaikan, bahan semprit diambil dari kompartemen penyimpanan dan diaplikasikan pada kavitas yang direparasi. Mula-mula diaplikasikan pada dasar preparasi, kemudian pada bagian lain yang belum tertutup. Ujung semprit diletakkan di dekat gigi, dibawah permukaan bahan semprit untuk mencegah gelembung udara. Begitu kavitas yang akan dipreparasi telah tertutup bahan cetak, sendok cetak yang telah sempurna didinginkan siap untuk dimasukkan kedalam rongga mulut. Proses gelasi dapat dipercepat dengan mengalirkan air dingin sekitar 18-21 derajat selama 3-5menit.
·         Keakuratan Bahan Cetak Agar
Bahan Cetak Reversibel adalah bahan cetak paling akurat. Untuk mencapai keakuratan tersebut perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya :
-          Kekentalan sol
Kekentalan merupakan pertimbangan paling penting dalam keberhasilan memanipulasi bahan. Bahan tidak boleh terlalu encer sehingga mengalir keluar sendok cetak, terutama saat mencetak rahang bawah. Sebaliknya, bahan tidak boleh terlalu kental, sehingga sulit menembus semua detail gigi-geligi dan jaringan lunak.
-          Sifat Viskoelastik
Hubungan tegangan – regangan dari bahan hidrokoloid berubah begitu besarnya beban berubah. Sifat ini menunjukkan perlunya mengeluarkan cetakan dari dalam mulut dengan cepat. Karena apabila pengeluaran cetakan dari dalam mulut secra perlahan, diputar atau diungkit akan menyebabkan terjadi distorsi.
-          Distorsi selama gelasi
-          Daya reproduksi
Sifat ini mewakili kemampuan untuk membuat die duplikat dari serangkaian cetakan. Untuk teknik die gandi, dibuat satu cetakan dan kemudian dipotong-potong menjadi die individual untuk gigi yang akan dipreparasi.

2.         ALGINATE
·         Komposisi
Alginat merupakan hidrokoloid ireversibel yang komponen utamanya adalah salah satu alginate larut air  seperti natrium, kalium, atau alginate trietanolamin. Alginate yang dicampur air akan membentuk sol dengan cepat. Besar berat molekul alginate bervariasi, semakin besar berat molekul maka kekentalan sol akan bertambah. Biasanya ditambahkan bahan pengisi seperti tanah diatoma yang berfungsi sebagai penambah kekerasan dan kekuatan gel alginate. Oksida seng juga merupakan bahan pengisi yang mempengaruhi sifat fisik serta waktu pengerasan gel.
·         Lama Penyimpanan
Temperatur dan kontaminasi kelembaban udara merupakan 2 faktor utama yang mempengaruhi lama penyimpanan bubuk alginate. Bahan cetak alginate dikemas dalam kantung tertutup secara individual dengan berat bubuk yang sudak ditakar untuk membuat satu cetakan, atau dalam kaleng besar yang tertutup rapat.
·         Alginat modifikasi
·         Proses gelasi
Reaksi khas sol-gel dapat digambarkan secara sederhana sebagai reaksi alginate larut air dengan kalsium sulfat dan pembentukan gel kalsium alginate yang tidak larut. Kalsium sulfat cepat bereaksi untuk membentuk kalsium alginate tak larut air dari kalium atau natrium alginate dalam larutan cair. Produk kalsium alginate sangat cepat, oleh karena itu tidak tersedia waktu yang cukup untuk bekerja. Oleh karena itu perlu ditambahkan garam pemerlambat (retarder) seperti trinatrium untuk memperpanjang waktu kerja.

·         Manipulasi bahan alginate
-          Mempersiapkan pengadukan
Campurkan bubuk alginate yang telah ditakar dengan air sesuai takaran pada bowl. Gerakan pengadukan yang salah dapat merusak bahan alginate. Cara pengadukan yang benar adalah dengan menggunakan spatula logam, awali dengan gerakan angka delapan, dan lanjutkan dengan menekan bahan ke dinding bowl searah 180derajat.  Waktu pengadukan terlalu lama juga dapat merusak alginate. Biasanya 45 detik sampai 1 menit adalah waktu yang pas untuk mengaduk alginate.
-          Membuat cetakan
Bahan harus mencapai konsistensi tertentu sehingga tidak mengalir keluar sendok cetak dan  menyebabkan tersedak.  Bahan cetak juga harus menempel pada sendok cetak agar dapat ditarik dari sekitar gigi. Ketebalan cetakan alginate antara sendok cetak dan jaringan harus sekurang-kurangnya 3mm.
·         Kekuatan gel maksimal diperlukan untuk mencegah fraktur dan menjamin bahwa cetakan cukup elastic ketika dikeluarkan dari mulut.
·         Katahanan terhadap sobekan pada alginate akan meningkat bila cetakan dikeluarkan dengan sentakan secara tiba-tiba.
·         Keakuratan cetak alginate kurang, karena dia tidak dapat menembus detail kecil yang ada pada gigi.

b.      Bahan Cetak Elostomerik Tanpa Air
Secara kimia terdapat 4 jenis : polisulfida, slikon polimerisasi kondensasi, silikon polimerisasi tambahan, polieter. Merupakan sistem 2 komponen yang dikemas dalam bentuk pasta. Kedua pasta yang berbeda warna dikeluarkan dalam panjang yang sama pada kertas pengaduk dan diaduk dengan spatula sampai terbentuk warna homogen.


1.       Bahan cetak polisulfid
è Komposisi
Pasta basis mengandung polimer polisulfid, bahan pengisinya yang cocok(seperti lithopone dan titanium dioksida) untuk memberikan kekuatan yang diperlukan, bahan pembentuk sifat plastik(seperti dibutil phtlat) untuk menghasilkan kekentalan yang tepat bagi pasta, sulfur ± 0,5%. Untuk menungkatka reaksi yang disebut sebagai pasta katalis atau aselator reaksi mengandung timah dioksid yang menghasilkan sifat warna cokelat gelap.
è Manipulasi
Pasta katalis dan pasta basis dikeluarkan denagn panjang yang sama pada lembaran kaca pengaduk. Pasta katalis mula- mula dikumpulkan pada spatula tahan karat dan kemudian diistribusikan di atas pasta basis, diaduk di lembar pengadukan.
è Polisulfid
Yaitu bahan cetak elastomerik yang paling sedikit kekakuannya. Kelenturan ini denagn tekanan minimal, memiliki ketahanan tertinggi terhadap robekan.
è Biokompatibilitas
Polisulfid mempunyai hasil hitung kematian sel yang terendah (kurang memiliki efek pada kehidupan sel).
è Keuntungan
Waktu kerja lama
Tebukti akurat
Ketahanan robek tinggi
Sedikit hidrofibik
Harga tidak mahal
Wakktu penyimpanan lama
è Kerugian
Memerlukan sendok cetak perseorangan
Harus diisi dengan stone secepatnya
Berpotensi terhadap distorsi yang nyata
Aroma mengganggu pasien
Kotor dan menimbulakan noda pada pakaian
Hasil pengisian berikutnya kurang akurat


2.       Bahan Cetak Silikon Kondensasi
Dikemas sebagai pasta basis dan katalis atau cairan dengan kekentalan rendah. Karena polimer silikon merupakan suatu cairan,silikon koloidal / logam oksida ukuran mikro ditambahkan sebagai pengisi untuk membetuk suatu pasta. Pengaruh pengisi terhadap kekuatan adalah hal yang lebih penting untuk suatu elastomer silikon dibanding cetakan yang lainnya. Bhan denagn kekentalan tinggi(putty, seperti dempulan) dikembangkan untuk mengatur pengerutan polimerisasai yang besar dari bahan cetak silikon kondensasi
è Manipulasi
Panjang basis yang sesuai dikeluarkan dari dalam tubepada lembar pengaduk. Lalu satu tetes cairan katalis ditambahkan untuk tiapa unit panjang basis. Bhan ini agak sulit diaduk karena perbedaan- perbedaan komponen
è Elastisitas
 Lebih ideal daripada polisulfid. Menunjukkan deformasi permanen minimal dan dapat kembali ke bebtuk semula dengan cepat bila direnggangkan. Bila terlalu kaku.
è Biokompatibilitas
Silkon dapat diterima secara biologis sehingga tidak menyebabkan masalah
è Keuntungan
Tersedia waktu kerja dan waktu pengerasan yang cukup
Aroma menyenangkan dan tidak menimbulkan bercak
Memiliki ketahan robek yang cukup
Memiliki sifat elastik yang dikeluarkan
Distorsi lebih sedikit ketika dikeluarkan
è Kerugian
Cukup akurat jika langsung dituang
Kestabilan dimensi buruk
Berpotensi pada distorsi yag nyata
Metode puttywash merupakan teknik yang sensitif
Sedikit lebih mahal

3.       Bahan Cetak Silikon dengan Reaksi Tambahan
è Manipulasi
Vinyl polysiloxane encer dan agak kental dikenas dalam dua pasta, bahan putty dikemas dalam dua toples yang terdiri dari bahan basis denagn kekentalan tinggi dam bahan katalis. Bahan havy, body dan putty telah dimodifikasi untuk menggunakan alat pengaduk otomatis, dengan menggunakan alat mekanis tersebut, terdapat keseragaman dalam membagi danmengaduk bahan, semakin kecil kemungkiana masuknya udara ke dalam adukan, waktu pengadukan menjadi lebih singkat, kontaminasi bahan lebih sedikit. Bahan cetak yang telah diaduk dimasukkan langsung ke dalam sendok cetak yang dilapisi adhesi. Waktu kerja dan pengerasan, dapat diperpanjang 100% dengan penambahan retarder yang dipasok oleh masing- masing pabrik dan dengan pendinginan alas pengaduk. Silikan dapat disimpan di lemari es.
è Elastisitas
Merupakan bahan bersifat elastis paling ideal. Distorsi ketiak mengeluarkan melalui underkut umumnya tidak terjadi.
è Biokompatibilatas
Bahaya tertinggalnya sebagian bahan sirna mengeluarkan cetakan dapat dihindari dengan penanganan bahan yang tepat dan pemeriksaan tepi cetakan secara cermat untuk tidak ada daerah yang sobek. Benda asing dari bahan cetak dapat menyebabkan inflamasi gingiva yang parah dan mungkin salah diagnosis pada kunjungan berikutnya.
è Keuntungan
Waktu pengerasan lebih pendek
Mudah diaduk alat otomatis
Kekuatan robek sedang
Kakuratan amat tinggi
Distorsi tidak terdeteksi ketika dibuka
Bila hidrofilik, amat sesuai dengan gypsum
è Kerugian
Terbentuknya gas hidrogen pada beberapa bahan
Bahan hidrofilik tetap memerlukan penanganan hati- hati dan lingkungan amat -kering
Lebih mahal, khususnya alat pengaduk otomatis.
4.       Bahan Cetak Polieter
è Komposisi
Karet polieter dipasok berupa dua pasta
è Basis
Polimer polieter, suatu silika koloidal sebagai pengisi, dan suatu bahan pembuat plastik seperti glikoeter/ ftalat.


è Pasta aselator
Alkil sulfonat aromatik sebagai tambahan terhadap bahan pengisi, waktu kerja dan pengerasan, kecepatan pengerasan polieter kurang sensitif terhadap perubahan temperatur.
è Elastisitas
Bahan yang paling keras tidak termasuk bahan puty viskositas tinggi kurang elastik dibanding vinyl polysixane
è Biokompatibilitas
Dermatitis kontak akibat polieter. Namun penelitian akhir- akhir ini menunjukkan tidak ada efek sitoksik yang berhubungan dengan katalis imin yang terjadi berasal dari bagia bahan cetak yang tertinggal di dalam sulkus.ukkan tidak ada efek sitoksik yang berhubungan dengan
è Keuntungan
Waktu kerja dan pengerasan cepat
Terbukti akurat
Ketahanan sobek cukup
Kurang hidrofibik
Distorsi kurang
Waktu penyimpanan lama
è Kerugian
Cukup akurat jika dituangkan langsung
Kestabilan dimensi buruk
Bersih, tetapi rasa tidak enak
Keras, sehingga meliputi permukaan undecut
Sedikit lebih mahal
Dapat diisi ulang

2.2      BAHAN PENGISI
Gypsum merupakan salah satu jenis bahan pengisi. Kriteria pemilihan produk gypsum tertentu bergantung pada penggunaannya serta sifat fisik tertentu untuk penggunaan tertentu. Misalnya, stone kedokteran gigi merupakan materi yang buruk untuk digunakan sebagai bahan cetak karena bila ada gigi geligi, tidaklah mungkin mengeluarkan cetakan melalui undercut gigi tanpa melukainya (karena besarnya kekuatan stone ). Macam-macam gypsum :
1.       Plaster cetak (tipe I)
Bahan cetak ini terdiri dari plaster of paris yang ditambahkan zat tambahan untuk mengatur waktu pengerasan dan ekspansi pengerasan. Plaster cetak jarang digunakan lagi untuk mencetak dalam kedokteran gigi karena telah digantikan oleh bahan yang kurang kaku seperti hidrokoloid dan elastomer . plaster terbatas digunakan untuk cetakan akhir, atau wash, dalam pembuatan gigi tiruan penuh.
2.       Plaster model (tipe II)
Plaster model ini atau plaster laboratorium tipe II sekarang digunakan untuk mengisi kuvet dalam pembuatan protesa bila ekspansi pengerasan tidaklah penting dan kekuatan cukup, suatu batasn yang disebutkan dalam spesifikasi. Biasanya dipasarkan dalm warna putih alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang umumnya berwarna.
3.       Stone Gigi (tipe III)
Pada tahun 1930, suatu peristiwa penting terjadi, yaitu ketika α-gipsum ditemukan dan diperkenalkan dalam kedokteran gigi. Dikombinasikan dengan kemajuan dari bahan cetak hidrokoloid, α-gipsum yang diperbaharui kekerasannya membuat die stone dapat digunakan dan pembuatan model tidak langsung mungkin dilakukan.
Kedokteran gigi banyak membantu sejarah perkembangan plaster. Seorang peneliti pada Perusahaan Gipsum USA mempelajari bahwa mold plaster yang digunakan untuk membentuk basis karet protesa dalam suatu tekanan uap vulkanisasi menjadi amat keras dalam semalam. Penelitian lanjut menunjukkan bahwa gipsum yang mengeras mengalami pengapuran di bawah tekanan uap, membentuk kristalisasi kalsium sulfat hemidrat yang lebih bermutu. Karena perbaikan ini, bahan kemudian langsung dipatenkan sebagai α-gipsum. Sejak penemuan ini, untuk penemuan komersial, proses tersebut dilakukan dalam suatu otoklaf.
Stone tipe III memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam sebesar 20,7 Mpa (3000 psi), tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa (5000 psi). Bahan ini ditujukan untuk pengecoran dalam membentuk gigi tiruan penuh yang cocok dengan jaringan lunak. Die stone merupakan reproduksi gigi yang dipreparasi dimana protesa dibuat pada atau di dalam model tersebut. Karena kondisi keausan yang parah pada bagian tepi ketika dilakukan pembuatan pola malam, dan karena tekanan yang lebih tinggi mengenai die stone selama mencoba dan penyesuaian, kekuatan dan kekerasan yang lebih tinggi dibutuhkan oleh bahan die. Sebagai tambahan, sedikit ekspansi pengerasan dapat ditolerir pada model yang mereproduksi jaringan lunak, tetapi tidak bila menyangkut gigi. Stone tipe III lebih disukai untuk pembuatan model yang digunakan pada konstruksi protesa, karena stone tersebut memiliki kekuatan yang cukup untuk tujuan itu serta protesa lebih mudah dikeluarkan setelah proses selesai.
Tanpa melihat jenis stone yang digunakan, terdapat sedikitnya 2 metode untuk membuat model. Dalam salah satu metode, mold untuk pengecoran dibuat dengan membungkus sekitar cetakan dengan lembaran malam lunak sehingga melebihi kurang lebih 12 mm di luar sisi jaringan pada cetakan. Basis untuk model dibentuk pada daerah ini. Proses ini disebut boxing. Adukan stone dan air kemudian dituang ke dalam cetakan di bawah vibrator. Adukan dibiarkan mengalir perlahan dalam aliran yang terkendali sepanjang cetakan, sehingga aliran tersebut dengan sendirinya mendorong udara keluar begitu adukan mengisi semua cetakan gigi tanpa adanya gelembung udara yang terjebak.
Metode lain adalah dengan mengisi cetakan seperti yang telah dijabarkan. Sisa adukan stone-air dituang pada lempeng kaca. Cetakan yang telah terisi kemudian dibalikkan pada tumpukan stone di lempeng kaca tersebut, dan basis dibentuk dengan spatula sebelum stone mengeras. Prosedur tersebut tidak diindikasikan bila digunakan bahan cetak yang mudah mengalami deformasi atau bila stone mengalir menyebar. Model baru boleh dilepaskan dari cetakan setelah pengerasan awal tercapai. Waktu pengerasan minimal bervariasi dari 30-60 menit, bergantung pada kecepatan pengerasan stone atau plaster serta jenis bahan cetak yang digunakan.
4.       Stone gigi, kekuatan tinggi (tipe IV)
Persyaratan utama bagi bahan stone untuk pembuatan die adalah kekuatan, kekerasan, dan ekspansi pengerasan minimal. Untuk memperoleh sifat ini, digunakan α-hemihidrat dari jenis ’Densite’. Partikel-partikel berbentuk kuboidal serta daerah permukaan yang lebih kecil menghasilkan sifat tersebut tanpa menyebabkan pengentalan adukan.
Diperlukan permukaan keras bagi suatu die yang terbuat dari stone, karena preparasi kavitas diisi dengan malam dan diukir sehingga selaras dengan tepi-tepi die. Suatu instrumen yang tajam digunakan untuk tujuan ini. Karenanya, stone harus tahan terhadap abrasi. Untungnya, kekerasan permukaan meningkat lebih cepat bila dibandingkan dengan kekuatan kompresi, karena permukaan lebih cepat mengering. Ini merupakan keunggulan nyata, dimana permukaan tahan terhadap abrasi, sementara inti die cukup liat dan kurang terpaparkan terhadap patah tanpa disengaja. Rata-rata kekerasan permukaan kering dari stone tipe IV (’stone die’) kurang lebih 92 (kekerasan Rockwell), stone tipe III adalah 82. meskipun permukaan lebih keras, tetaplah harus berhati-hati ketika mengukir pola malam.
5.       Stone gigi, kekuatan tinggi, ekspansi tinggi ( tipe V)
Ini merupakan produk gipsum yang dibuat akhir-akhir ini, dan memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibandingkan stone gigi tipe IV. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan menurunkan lebih jauh rasio W:P. Sebagai tambahan, ekspansi pengerasan ditingkatkan dari maksimal 0,10%-0,30%. Alasan peningkatan batasan ekspansi pengerasan disebabkan karena logam campur yang baru, seperti basis logam, memiliki pengerutan pengecoran yang lebih besar dibandingkan logam campur mulia konvensional. Jadi, dibutuhkan ekspansi lebih tinggi pada stone yang digunakan untuk die untuk mengimbangi pengerutan pemadatan logam campur.
6.       Gypsum sintetik
α-hemihidrat dan β-hemihidrat juga dapat dibuat sebagai produk sampingan atau produk sisa dalam pembuatan asam fosforik. Produk sintetik biasanya lebih mahal dibandingkan yang dibuat dari gipsum alami tetapi bila produk tersebut dibuat dengan tepat, sifatnya sebanding atau melebihi stone alami. Kendala dalam prosesnya cukup banyak dan hanya sedikit yang berhasil. Metode yang digunakan adalah rahasia perusahaan. Sumber hemihidrat tidaklah sepenting sifat dari penggunaan produk akhir yang pada dasarnya sama. Terlepas dari manapun asalnya.













BAB III
PEMBAHASAN
1.       Mengapa dipilih bahan cetak alginate dan bukan rubber base impression ?
Karena bahan Alginat lebih murah dibandingkan dengan bahan Elastomer (rubber base impression), penanganannya mudah, alat yang dipergunakan relatif sederhana, elastis, cukup akurat dan bahan alginate mudah didapatkan serta bahan alginate banyak disukai pasien karena memiliki rasa yang bervariasi.


2.       Apa perbedaan sifat antara bahan cetak Hyrocolloid irreversible dan reversible?
·         Bahan cetak hidrokoloid irreversible.
Dapat dicontohkan dengan alginat. Bahan ini disebut irreversible, sebab bahan ini tidak dapat kembali menjadi wujud dasarnya setelah bereaksi membentuk wujud sol. Bahan ini ditemukan pada saat bahan cetak yang digunakan sebelumnya menjadi langka, yakni pada waktu perang dunia kedua. Bahan ini memiliki kelebihan dibandingkan bahan cetak lainnya, yakni proses manipulasinya yang mudah, nyaman bagi pasien, dan relatif tidak mahal karena tidak memerlukan banyak peralatan.
·         Bahan cetak hidrokoloid reversible.
Bahan ini dipengaruhi oleh suhu, sehingga bahan ini dapat kembali ke bentuk semula (reversible). Bahan ini leleh pada temperatur 70-100⁰C, sedangkan pada temperatur 37-50⁰C, bahan ini dapat menjadi gel. Contoh bahan cetak jenis ini ialah agar.

3.       Terangkan pula perbedaan bahan cetak Hydrokoloid dan Rubber base impression?
·         Bahan cetak hidrokoloid merupakan bahan cetak yang substansi dasarnya berupa koloid yang direaksikan dengan air, sehingga disebut hidrokoloid. Koloid merupakan kombinasi dari wujud benda apapun, terkecuali bentuk gas. Semua penghambur koloid disebut sol. Bahan cetak hidrokoloid sendiri dapat diklasifikasikan menjadi bahan cetak hidrokoloid irreversible, dan bahan cetak hidrokoloid reversible.
·         Elastomer (Rubber base impression) merupakan jenis bahan cetak elastis lain diluar bahan cetak hidrokoloid. Suatu bahan cetak elastomer terdiri atas molekul atau polimer besar yang diikat oleh sejumlah kecil ikatan. Ikatan tersebut mengikat rantai polimer yang melingkar pada titik tertentu untuk membentuk jalinan 3 dimensi yang sering disebut sebagai gel. Pada keadaan ideal, peregangan menyebabkan rantai polimer membuka lingkaran hanya sampai batas tertentu yang dapat kembali ke keadaan semula, yaitu rantai kembali melingkar pada keadaan berikatan ketika diangkat. Banyaknya ikatan silang menentukan kekakuan dan sifat elastis bahan tersebut.


4.       Mengapa prothesa gigi tiruan tersebut tak pas, ditinjau dari sudut bahan cetak ?
Alginate terkemas dalam bentuk bubuk dan tinggal ditambahkan air dengan rasio yang sesuai dalam proses pengadukan. Adonan bahan cetak ini bersifat plastis. Lalu, diaplikasikan pada rahang yang dicetak dan cetakan dilepas dengan cepat kira-kira 2menit dari saat kelihatan menjadi elastis. Kalsium alginate yang terisisa setelah pengerasan mempunyai sifat syneresis (penyusutan) dan imbibitions (ekspansi). Syeneresis disebabkan oleh cetakan alginate yang terlalu lama disimpan pada udara terbuka serta adanya kenaikan suhu. Sedangkan imbibitions dapat terjadi apabila cetakan direndam dalam air atau zat antiseptik yang terlalu lama. Hal ini mempengaruhi hasil kekerasan permukaan model gibs atau mengalami distorsi bentuk apabila hasil cetakan negative tidak segera di cor. Prothesa gigi tiruan tidak pas karena bahan cetak alginate tidak segera di cor dengan moldano setelah dikeluarkan dari mulut pasien. Sehingga, bahan cetak alginate mengalami syneresis atau penyusutan yang dikarenakan oleh cetakan alginate yang terlalu lama dibiarkan selama kurang lebih 24 jam. Salah satu sifat bahan alginate adalah ketidakstabilan secara dimensi karena syneresis. Dalam kasus ini, prosedur tidak memenuhi syarat-syarat bahan cetak karena selama setting (pengerasan) terjadi perubahan dimesi yang menyebabkan hasil cetakan tidak akurat (prothesa gigi tiruan tidak pas). Agar bahan cetak tidak mengalami perubahan dimensi seharusnya cetakan di lapiskan dengan serbet basah setelah dikeluarkan dari mulut dan segera di cor dengan moldano untuk mencegah syneresis.

5.       Apa bahan dasar alginate impression dan apa katalisator sehingga terjadi gel?
BAHAN DASAR

JUMLAH (%)
FUNGSI
Sodium atau potassium alginate salt
18
Untuk melarutkan powder dalam air
Calcium sulfate
14
Untuk bereaksi melarutkan powder alginate dari bentuk tidak larut calcium alginate
Sodium phospate
2
Untuk bereaksi dengan calcium sulfate dan sebagai perlambat
Diatomaceous earth atau silicate powder
56
Untuk kontrol konsistensi pencampuran dan fleksibilitas bahan cetak
Sodium silicofluoride
4
Untuk kontrol pH
Potassium sulfate atau potassium zinc fluoride

10
Untuk menetralkan efek penghambat kekerasan selama pembuatan model gips atau die material
Organic glycol


Untuk melapisi partikel-partikel powder untuk meminimalkan debu selama pengadukkan
Pigment’s

Untuk memberikan warna
Quaternary ammonium compounds atau chlorhexidine

Untuk memberikan self desinfection
Phenylalanine

Untuk bahan pemanis
Katalisator pada alginate sehingga terjadi gel :
Salah satu sifat dari larutan natrium alginat adalah jika dicampurkan dengan larutan kalsium klorida akan membentuk gel kalsium alginat, yang tidak larut dalam air. Ikatan antara kalsium dengan alginate adalah ikatan kelat yaitu antara kalsium dengan rantai L-Guluronatdari alginat. Gel terbentuk melalui reaksi kimia diamana kalsium menggantikan natrium dengan alginat mengikat molekul molekul alginat yang panjang sehingga membentuk gel. Tergantung dari jumlah kalsium yang memberikan assosiasi sementara dan meningkatkan viskositas larutan, sementara kandungan kalsium yang tinggi menghasilkan assosiasi permanen yang menyebabkan pengendapan atau gelatin.


6.       Apa bahan dasar Rubber base impression dan apa katalisator sehingga terjadi proses polimerisasi?
RUBBER BASE IMPRESSION MATERIAL
a.       Polysulfide
• Nama produk I : LP-2 (Thiokol Corporation)
• Kandungan dasar : Polimer polisulfid (bahan pengisi : lithopne, titanium dioksid dan bahan pembentuk plastis : dibuthyl phtalat)
• Katalisator : timah dioksida (PbO₂) menghasilkan warna cokelat gelap
b.Polyether
• Nama produk : Impregnum F, Permadyne, Polyjel NF
• Kandungan dasar : Polimer Polieter (pengisi silika koloidal, bahan pembuat plastisnya Glikoeter/ftalat)
• Katalisator : Alkil sulfonat aromatik
c. Condensation silicone
• Pengganti polysulfide,dg karakter yg lebih baik 
• Susunan kimia Mengandung α-ω-hydroxy-terminated polydimethyl siloxane





















KESIMPULAN dan SARAN


                Kesimpulan

·         Pada kasus ini dipilih bahan cetak Alginate dan bukan rubber base impression dikarenakan :
1.       Bahan Alginate lebih murah dibandingkan dengan bahan Elastomer (rubber base impression)
2.       Penanganannya mudah,
3.       Alat yang dipergunakan relatif sederhana, elastis, cukup akurat
4.       Alginate  mudah didapatkan
5.       Alginate banyak disukai pasien karena memiliki rasa yang bervariasi.
·         Perbedaan bahan cetak Hydrocoloid irreversible dan reversible terletak pada kemampuan bahan untuk kembali ke wujud semula. Hydrocoloid irreversible tidak dapat kembali ke wujud semula sedangkan Hydrocoloid reversible dapat kembali ke wujud semula.
·         Bahan cetak hydrocolloid merupakan bahan cetak yang substansi dasarnya berupa koloid yang direaksikan dengan air, berbeda dengan rubber base impression yang terdiri atas molekul atau polimer yang diikat sejumlah kecil ikatan.
·         Prosthesa gigi tiruan tidak pas dikarenakan prosedur tidak memenuhi syarat-syarat bahan cetak karena selama setting (pengerasan) terjadi perubahan dimesi (pengerutan) yang menyebabkan hasil cetakan tidak akurat (prothesa gigi tiruan tidak pas).
·         Katalisator alginate sehingga terjadi gel adalah kalsium klorida
·         Bahan dasar dan katalisator rubber base impression :
1.       Polysulfide dengan katalisator berupa timah dioksida
2.       Polyether dengan katalisator berupa Alkil sulfonat aromatik
3.       Condensation silicone

Saran
Untuk pembuatan bahan cetak pada pasien, perhatikan pemilihan bahan dan alat yang baik digunakan dan cocok untuk pasien. Serta perhatikan dan patuhi syarat-syarat yang memenuhi prosedur selama setting agar tidak terjadi kesalahan yang menyebabkan hasil cetakan tidak akurat. Memperluas pengetahuan dan mencari informasi terbaru dapat membantu kinerja dokter gigi menjadi lebih baik.
                               

























DAFTAR PUSTAKA


Anusavice, J Kenneth.2003. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar